BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Lahirnya agama
Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW, pada abad ke-7 M, menimbulkan suatu
tenaga penggerak yang luar biasa, yang pernah dialami oleh umat manusia. Islam
merupakan gerakan raksasa yang telah berjalan sepanjang zaman dalam pertumbuhan
dan perkembangannya. Masuk dan berkembangnya Islam ke Indonesia dipandang dari
segi historis dan sosiologis sangat kompleks dan terdapat banyak masalah,
terutama tentang sejarah perkembangan awal Islam. Ada
perbedaan antara pendapat lama dan pendapat baru. Pendapat lama sepakat bahwa
Islam masuk ke Indonesia abad ke-13 M dan pendapat baru menyatakan bahwa Islam
masuk pertama kali ke Indonesia pada abad ke-7 M. (A.Mustofa, Abdullah,1999:
23). Namun yang pasti, hampir semua ahli sejarah menyatakan bahwa daerah
Indonesia yang mula-mula dimasuki Islam adalah daerah Aceh. Datangnya Islam ke
Indonesia dilakukan secara damai, dapat dilihat melalui jalur perdagangan,
dakwah, perkawinan, ajaran tasawuf dan tarekat, serta jalur kesenian dan
pendidikan, yang semuanya mendukung proses cepatnya Islam masuk dan berkembang
di Indonesia. Ada
banyak kerajaan bercorak Islam yang terdapat mulai dari Sumatra sampai Maluku.
Dalam konteks inilah, maka pemakalah akan membahas tentang Kerajaan-Kerajaan
Islam yang berkembang di Indonesia.
B.
Rumusan
Masalah
1. Bagaimana Proses masuknya Islam ke Asia
Tenggara?
2. apa saja kerajaan-kerajaan Islam yang
berkembang di Indonesia dan bagaimana pemerintahannya?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Sejarah
Masuknya Islam ke Asia Tenggara
Masuk
dan berkembang pesatnya agama Islam memunculkan pendapat yang berbeda beda bahkan saliing
bertentangan,khususnya tentang darimana agama ini datang dan siapa yang
membawanya. Maka muncullah berbagai teori tentang kedatangan Islam di Asia
Tenggara yang di Informasikan oleh Azyumardi Azra, sebagai berikut:
1. Teori
Gujarat
Menurut teori ini Islam masuk ke
Asia Tenggara pada abad ke-13dan dibawa oleh pedangang dari Gujarat, India.
Tokoh- tokoh yang mendukung teori ini antara lain Snouck Hurgronje, Pijnappel,
Moquette, seorang sarjana Belanda lainnya dan Sucipto Wiryosuparto. Indonesia
dari wilayah –wilayah di Anak Benua India. Tempat-tempat seperti Gujarat,
Begali, dan Malabar, disebut asal masuknya Islam di Nusantara. Snouck
mengatakan teori tersebut didasarkan pada pengamatan tidak terlihatnya persn
dan nilai-nilai arab yang ada dalam islam pada masa-masa awal, yaitu pada abad
ke 7 sebetulnya teori ini dimunculakan pertama kali oleh Pijnappel, seorang
sarjana dari Univeritas Leiden. Akan tetapi nama Snouck Hurgronje yang paling
besar memasarkan Teori Gujarat ini adapun Sucipto Wiryosuparto berpendapat
bahwa terdapat bukti yang memperkuat dugaan bahwa Islam masuk dari Gujarat.
Bukti-bukti antara lain:
-Nisan sultan malik
saleh terbuat dari marmer yang sejenis denagan nisan yang ada di india pada
abad 13
-Relief
yang terdapat dalam makam Sultan Malik As-Saleh memiliki corak sama
dengan yang ada di kuil Cambai, India atau bahkan mungkin didatangkan dari
India
-Proses islamisasi
mengikuti jalur perdangan rempah-rempah yang berpusat di India[1]
1. Teori
persia
Tanah Persia disebut-sebut sebagai
tempat awal Islam datang di Nusantara. Teori ini berdasarkan kesamaan budaya
yang dimiliki oleh beberapa keompok masyarakat Islam dengan penduduk persia.
Misalnya saja tentang peringatan 10 Muharram yang dijadikan sebagai hari
peringatan wafatnya Hasan dan Husein, cucu Nabi Muhammad Saw. Adapula pendukung
lain dari teori ini adalah beberapa serapan bahasa yang diyakini datang dari
Iran. Misalya Jabar dari zabar, jer dari ze-er dan
beberapa yang lainnya. Teori ini meyakini Islam masuk ke wilayah Nusantara pada
abad ke 13 adapun wilayah pertama yang dijamah adalah Samudera Pasai. Teori ini
didukung oleh Oemar Amin Husin.[2]
Bukti-bukti yang dikemukannya sebagai berikut
a. Di Persia terdapat suku Leran. Kemungkinan
besar suku ini berasal dari Jawa.
Kemungkinan ini didukung dengan adanya sebuah kampung yang bernama kampung Leran yang terletak
di Gresik, Jawa Timur
b. Di Persia terdapat suku Jawi. Suku Jawi
diduga mengajarkan huruf arab di Jawa. Huruf arab itu disebut huruf arab Pegon
banyak terdapat di Indonesia.
2. Teori
Arab
Ahli
Indonesia setuju dengan teori Arab
ini. Dalam seminar yang diselenggarakan pada
1969 dan 1978 tentang kedatangan Islam ke Indonesia mereka menyimpulkan, Islam
datanng langsung dari Arabia, tidak dari India; tidak pada abad ke-12 atau
ke-13 melainkan dalam abad pertama H atau abad ke-7 M. Di
antara pembela tergigih “teori Arab” atau sebaliknya penentang terkeras “teori
India” adalah Naguib Al-Attas. Seperti Marrison, ia juga tidak bisa menerima
penemuan epigrafis yang disodorkan Moquetta sebagai bukti langsung bahwa Islam
dibawa dari Gujarat ke Pasai dan Gresik oleh Muslim India. Ia berpendapat,
batu-batu nisan itu dibawa dari India semata-mata karena jaraknya yang lebih
dekat dibandingkan denagan Arabia. Ia memandang, bukti paling penting yang
perlu dikaji ketika membahas kedatangan Islam ke Nusantara adalah karakteristik
internal Islam didunia Melayu-Indonesia itu sendiri. Ia mengajuka apa yang
disebutnya “teori umum tentang Islamisasi Nusantara”, yanng harus didasarkan
terutama pada sejarah literatur Islam Melayu-Indonesia dan sejarah konsep dan
istilah-istilah kunci dalam literatur Melayu-Indonesia pada abad ke-10-11 /
16-17. Argumennya ini selaras dengan apa yang diceritakan oleh historiografis
lokal tentang Islamisasi didunia mereka. Meski historiografi lokal ini sering
bercampur dengan mitos dan legenda,
tetapi ada baiknya kita mendengarkan apa yang mereka ceritakan.
Menurut
Prof. Dr. Uka Tjandrasastika, Seorang Pakar Arkeologi Islam Nusantara, proses masuknya Islam ke Indonesia yang berkembang ada
enam, yaitu:
·
Saluran
perdagangan
Pada
taraf permulaan, proses masuknya Islam adalah melalui perdagangan. Kesibukan
lalu-lintas perdagangan pada abad ke-7 hingga ke-16 membuat pedagang-pedagang
Muslim (Arab, Persia dan India) turut ambil bagian dalam perdagangan dari
negeri-negeri bagian Barat, Tenggara dan Timur Benua Asia. Saluran Islamisasi
melaui perdagangan ini sangat menguntungkan karena para raja dan bangsawan
turut serta dalam kegiatan perdagangan, bahkan mereka menjadi pemilik kapal dan
saham. Mereka berhasil mendirikan masjid dan mendatangkan mullah-mullah dari
luar sehingga jumlah mereka menjadi banyak, dan karenanya anak-anak Muslim itu
menjadi orang Jawa dan kaya-kaya. Di beberapa tempat penguasa-penguasa Jawa
yang menjabat sebagai Bupati Majapahit yang ditempatkan di pesisir Utara Jawa
banyak yang masuk Islam, bukan karena hanya faktor politik dalam negeri yang
sedang goyah, tetapi karena factor hubungan ekonomi drengan
pedagang-rpedrarrgarng Muslim. Perkembangan selanjutnya mereka kemudian
mengambil alih perdagangan dan kekuasaan di tempat-tempat tinggalnya.
·
Saluran
perkawinan
Dari
sudut ekonomi, para pedagang Muslim memiliki status sosial yang lebih baik
daripada kebanyakan pribumi, sehingga penduduk pribumi terutama puteri-puteri
bangsawan, tertarik untuk menjadi isteri saudagar-saudagar itu. Sebelum dikawin
mereka diislamkan terlebih dahulu. Setelah mereka mempunyai keturunan,
lingkungan mereka makin luas, akhirnya timbul kampung-kampung, daerah-daerah
dan kerajaan Muslim.
Dalam
perkembangan berikutnya, ada pula wanita Muslim yang dikawini oleh keturunan
bangsawan; tentu saja setelah mereka masuk Islam terlebih dahulu. Jalur
perkawinan ini jauh lebih menguntungkan apabila antara saudagar Muslim dengan
anak bangsawan atau anak raja dan anak adipati, karena raja dan adipati atau
bangsawan itu kemudian turut mempercepat proses Islamisasi. Demikianlah yang
terjadi antara Raden Rahmat atau sunan Ampel dengan Nyai Manila, Sunan Gunung
Jati dengan puteri Kawunganten, Brawijaya dengan puteri Campa yang mempunyai
keturunan Raden Patah (Raja pertama Demak) dan lain-lain.
·
Saluran
Tasawuf
Pengajar-pengajar
tasawuf atau para sufi mengajarkan teosofi yang bercampur dengana jaran yang
sudah dikenal luas oleh masyarakat Indonesia. Mereka mahir dalam soal magis dan
mempunyai kekuatan-kekuatan menyembuhkan. Diantara mereka juga ada yang
mengawini puteri-puteri bangsawab setempat. Dengan tasawuf, “bentuk” Islam yang
diajarkan kepada penduduk pribumi mempunyai persamaan dengan alam pikiran
mererka yang sebelumnya menganut agama Hindu, sehingga agama baru itu mudah
dimengerti dan diterima.
Diantara
ahli-ahli tasawuf yang memberikan ajaran yang mengandung persamaan dengan alam
pikiran Indonesia pra-Islam itu adalah Hamzah Fansuri di Aceh, Syekh Lemah
Abang, dan Sunan Panggung di Jawa. Ajaran mistik seperti ini masih dikembangkan
di abad ke-19 M bahkan di abad ke-20 M ini.
·
Saluran
pendidikan
Islamisasi
juga dilakukan melalui pendidikan, baik pesantren maupun pondok yang
diselenggarakan oleh guru-guru agama, kiai-kiai dan ulama. Di pesantren atau
pondok itu, calon ulama, guru agama dan kiai mendapat pendidikan agama. Setelah
keluar adari pesantren, mereka pulang ke kampung masing-masing atau berdakwak
ketempat tertentu mengajarkan Islam. Misalnya, pesantren yang didirikan oleh
Raden rahmat di Ampel Denta Surabaya, dan Sunan Giri di Giri. Kleuaran
pesantren ini banyak yang diundang ke Maluku untuk mengajarkan Agama Islam.
·
Saluran
kesenian
Saluran
Islamisasi melaui kesenian yang paling terkenal adalah pertunjukan wayang.
Dikatakan, Sunan Kalijaga adalah tokoh yang paling mahir dalam mementaskan
wayang. Dia tidak pernah meminta upah pertunjukan, tetapi ia meminta para penonton
untuk mengikutinya mengucapkan kalimat syahadat. Sebagian besar cerita wayang
masih dipetik dari cerita Mahabarata dan Ramayana, tetapi dalam serita itu di
sisipkan ajaran nama-nama pahlawan Islam. Kesenian-kesenian lainnya juga
dijadikan alat Islamisasi, seperti sastra (hikayat, babad dan sebagainya), seni
bangunan dan seni ukir.
·
Saluran
politik
Di
Maluku dan Sulawesi selatan, kebanyakan rakyat masuk Islam setelah rajanya
memeluk Islam terlebih dahulu. Pengaruh politik raja sangat membantu tersebarnya
Islam di daerah ini. Di samping itu, baik di Sumatera dan Jawa maupun di
Indonesia Bagian Timur, demi kepentingan politik, kerajaan-kerajaan Islam
memerangi kerajaan-kerajaan non Islam. Kemenangan kerajaan Islam secara politis
banyak menarik penduduk kerajaan bukan Islam itu masuk Islam[3].
Untuk lebih
memperjelas bagaimana proses masuknya agama Islam di Asia Tenggara ini, ada 3
teori diharapkan dapat membantu memperjelas tentang penerimaan Islam yang
sebenarnya:
-Menekankan peran kaum
pedagang yang telah melembagakan diri mereka di beberapa wilayah pesisir
lndonesia, dan wilayah Asia Tenggara yang lain yang kemudian melakukan
asimilasi dengan jalan menikah dengan beberapa keluarga penguasa lokal yang
telah menyumbangkan peran diplomatik, dan pengalaman lnternasional terhadap
perusahaan perdagangan para penguasa pesisir. Kelompok pertama yang memeluk
agama lslam adalah dari penguasa lokal yang berusaha menarik simpati
lalu-lintas Muslim dan menjadi persekutuan dalam bersaing menghadapi
pedagang-pedagang Hindu dari Jawa. Beberapa tokoh di wilayah pesisir tersebut
menjadikan konversi ke agama lslam untuk melegitimasi perlawanan mereka
terhadap otoritas Majapahit dan untuk melepaskan diri dari pemerintahan
beberapa lmperium wilayah tengah Jawa.
-Menekankan peran kaum
misionari dari Gujarat, Bengal dan Arabia. Kedatangan para Ulama Sufi bukan
hanya sebagai guru tetapi sekaligus juga sebagai pedagang dan politisi yang
memasuki lingkungan istana para penguasa, perkampungan kaum pedagang, dan
memasuki perkampungan di wilayah pedalaman. Mereka mampu mengkomunikasikan visi
agama mereka dalam bentuknya, yang sesuai dengan keyakinan yang telah
berkembang di wilayah Asia Tenggara. Dengan demikian dimungkinkan bahwa
masuknya Islam ke Asia Tenggara agaknya tidak lepas dengan kultur daerah
setempat.
-Lebih menekankan makna
lslam bagi masyarakat umum dari pada bagi kalangan elite pemerintah. Islam
telah menyumbang sebuah landasan ldeologis bagi kebajikan lndividual, bagi
solidaritas kaum tani dan komunitas pedagang, dan bagi lntegrasi kelompok
parochial yang lebih kecil menjadi masyarakat yang lebih besar.
B.
Kerajaan-kerajaan
Islam yang berkembang di Indonesia dan pemerintahannya
1. Kerajaan Perlak
Perlak
adalah kerajaan Islam tertua di Indonesia. Perlak adalah sebuah kerajaan dengan
masa pemerintahan cukup panjang. Kerajaan yang berdiri pada tahun 840 ini
berakhir pada tahun 1292 karena bergabung dengan Kerajaan Samudra Pasai. Sejak
berdiri sampai bergabungnya Perlak dengan Samudrar Pasai, terdapat 19 orang
raja yang memerintah. Raja yang pertama ialah Sultan Alaidin Saiyid Maulana
Abdul Aziz Syah (225 – 249 H / 840 – 964 M). Sultan bernama asli Saiyid Abdul
Aziz pada tanggal 1 Muhharam 225 H dinobatkan menjadi Sultan Kerajaan Perlak.
Setelah pengangkatan ini, Bandar Perlak diubah menjadi Bandar Khalifah.Kerajaan
ini mengalami masa jaya pada masa pemerintahan Sultan Makhdum Alaidin Malik
Muhammad Amin Syah II Johan Berdaulat (622-662 H/1225-1263 M). Pada masa
pemerintahannya, Kerajaan Perlak mengalami kemajuan pesat terutama dalam bidang
pendidikan Islam dan perluasan dakwah Islamiah. Sultan mengawinkan dua
putrinya: Putri Ganggang Sari (Putri Raihani) dengan Sultan Malikul Saleh dari
Samudra Pasai serta Putri Ratna Kumala dengan Raja Tumasik (Singapura
sekarang). Perkawinan ini dengan parameswara Iskandar Syah yang kemudian
bergelar Sultan Muhammad Syah.Sultan Makhdum Alaidin Malik Muhammad Amin Syah
II Johan berdaulat kemudian digantikan oleh Sultan Makhdum Alaidin Malik Abdul
Aziz Syah Johan Berdaulat (662-692 H/1263-1292 M). Inilah sultan terakhir
Perlak. Setelah beliau wafat, Perlak disatukan dengan Kerajaan Samudra Pasai
dengan raja Muhammad Malikul Dhahir yang adalah Putra Sultan Malikul Saleh
dengan Putri Ganggang Sari.[4]Perlak
merupakan kerajaan yang sudah maju. Hal ini terlihat dari adanya mata uang
sendiri. Mata uang Perlak yang ditemukan terbuat dari emas (dirham), dari perak
(kupang), dan dari tembaga atau kuningan.
2. Kerajaan Samudera Pasai
Kerajaan
ini didirikan oleh Sultan Malik Al-saleh dan sekaligus sebagai raja pertama
pada abad ke-13. Kerajaan Samudera Pasai terletak di sebelah utara Perlak di
daerah Lhok Semawe sekarang (pantai timur Aceh).[5] Sebagai sebuah
kerajaan, raja silih berganti memerintah di Samudra Pasai. Raja-raja yang pernah memerintah
Samudra Pasai adalah seperti berikut:
Sultan
Malik Al-saleh berusaha meletakkan dasar-dasar kekuasaan Islam dan berusaha
mengembangkan kerajaannya antara lain melalui perdagangan dan memperkuat
angkatan perang. Samudra Pasai berkembang menjadi negara maritim yang kuat di
Selat Malaka.[6] Sultan Muhammad (Sultan
Malik al Tahir I) yang memerintah sejak 1297-1326. Pada masa pemerintahannya
Kerajaan Perlak kemudian disatukan dengan Kerajaan Samudra Pasai.[7] Sultan Malik al Tahir
II (1326 – 1348 M).[8]
Raja yang bernama asli Ahmad ini sangat teguh memegang ajaran Islam dan aktif
menyiarkan Islam ke negeri-negeri sekitarnya. Akibatnya, Samudra Pasai
berkembang sebagai pusat penyebaran Islam. Pada masa pemerintahannya, Samudra
Pasai memiliki armada laut yang kuat sehingga para pedagang merasa aman singgah
dan berdagang di sekitar Samudra Pasai. Namun, setelah muncul Kerajaan Malaka,
Samudra Pasai mulai memudar. Pada tahun 1522 Samudra Pasai diduduki oleh
Portugis. Keberadaan Samudra Pasai sebagai kerajaan maritim digantikan oleh Kerajaan
Aceh yang muncul kemudian.
Catatan lain mengenai
kerajaan ini dapat diketahui dari tulisan Ibnu Battuta, seorang pengelana dari
Maroko. Menurut Battuta, pada tahun 1345, Samudera Pasai merupakan kerajaan
dagang yang makmur.[9]
Banyak pedagang dari Jawa, Cina, dan India yang datang ke sana. Hal ini
mengingat letak Samudera Pasai yang strategis di Selat Malaka. Mata uangnya
uang emas yang disebur deureuham (dirham). Di bidang agama,
Samudera Pasai menjadi pusat studi Islam. Kerajaan ini menyiarkan Islam sampai
ke Minangkabau, Jambi, Malaka, Jawa, bahkan ke Thailand. Dari Kerajaan Samudra
Pasai inilah kader-kader Islam dipersiapkan untuk mengembangkan Islam ke
berbagai daerah. Salah satunya ialah Fatahillah. Ia adalah putra Pasai yang
kemudian menjadi panglima di Demak kemudian menjadi penguasa di Banten.[10]
3. Kerajaan Aceh
Kerajaan
Islam berikutnya di Sumatra ialah Kerajaan Aceh. Kerajaan yang didirikan oleh
Sultan Ibrahim yang bergelar Ali Mughayat Syah (1507-1522)[11],
menjadi penting karena mundurnya Kerajaan Samudera Pasai dan berkembangnya
Kerajaan Malaka.Para pedagang kemudian lebih sering datang ke Aceh. Pusat pemerintahan
Kerajaan Aceh ada di Kutaraja (Banda Acah sekarang). Corak pemerintahan di Aceh
terdiri atas dua sistem: pemerintahan sipil di bawah kaum bangsawan, disebut
golongan teuku; dan pemerintahan atas dasar agama di bawah kaum ulama, disebut
golongan tengku atau teungku.
Sebagai
sebuah kerajaan, Aceh mengalami masa maju dan mundur. Aceh mengalami kemajuan
pesat pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607- 1636). Pada masa
pemerintahannya, Aceh mencapai zaman keemasan. Aceh bahkan dapat menguasai
Johor, Pahang, Kedah, Perak di Semenanjung Melayu dan Indragiri, Pulau Bintan,
dan Nias. Di samping itu, Iskandar Muda juga menyusun undang-undang tata
pemerintahan yang disebut Adat Mahkota Alam.[12] Setelah Sultan Iskandar
Muda, tidak ada lagi sultan yang mampu mengendalikan Aceh. Aceh mengalami
kemunduran di bawah pimpinan Sultan Iskandar Thani (1636- 1641). Dia kemudian
digantikan oleh permaisurinya, Putri Sri Alam Permaisuri (1641- 1675). Sejarah
mencatat Aceh makin hari makin lemah akibat pertikaian antara golongan teuku
dan teungku, serta antara golongan aliran syiah dan sunnah sal jama’ah.
Akhirnya, Belanda berhasil menguasai Aceh pada tahun 1904.[13]
Dalam
bidang sosial, letaknya yang strategis di titik sentral jalur perdagangan
internasional di Selat Malaka menjadikan Aceh makin ramai dikunjungi pedagang
Islam. Terjadilah
asimilasi baik di bidang sosial maupun ekonomi. Dalam kehidupan bermasyarakat, terjadi
perpaduan antara adat istiadat dan ajaran agama Islam. Pada sekitar abad ke-16
dan 17 terdapat empat orang ahli tasawuf di Aceh, yaitu Hamzah Fansuri,
Syamsuddin as-Sumtrani, Nuruddin ar-Raniri, dan Abdurrauf dari Singkil. Keempat
ulama ini sangat berpengaruh bukan hanya di Aceh tetapi juga sampai ke Jawa.[14] Dalam kehidupan
ekonomi, Aceh berkembang dengan pesat pada masa kejayaannya. Dengan menguasai
daerah pantai barat dan timur Sumatra, Aceh menjadi kerajaan yang kaya akan
sumber daya alam, seperti beras, emas, perak dan timah serta rempah-rempah.
4. Kerajaan Demak
Demak
adalah kesultanan atau kerajaan islam pertama di pulau jawa dan dalam perkembangannya merupakan kerajaan Islam
terbesar dan terkuat diantara seluruh kerajaan Islam lainnya di Nusantara.
Kerajaan ini didirikan oleh Raden Patah (1478-1518) pada tahun 1478, Raden
patah adalah bangsawan kerajaan Majapahit yang menjabat sebagai adipati
kadipaten Bintara, Demak. Pamor kesultanan ini didapatkan dari Walisanga, yang
terdiri atas sembila orang ulama besar, pendakwah islam paling awal di pulau
jawa. Hal
itu didasarkan pada saat jatuhnya Majapahit yang diperintah oleh Prabu
Kertabumi. Para wali kemudian sepakat untuk menobatkan Raden Fatah menjadi
Sultan Demak Bintoro yang pertama.
Atas
bantuan daerah-daerah lain yang sudah lebih dahulu menganut islam seperti
Jepara, Tuban dan Gresik, Raden patah sebagai adipati Islam di Demak memutuskan
ikatan dengan Majapahit saat itu, Majapahit memang tengah berada dalam kondisi
yang sangat lemah. Dengan proklamasi itu, Radeh Patah menyatakan kemandirian
Demak dan mengambil gelar Sultan Syah Alam Akbar. Pada kira-kira tahun
1475 M, Raden Fatah mulai melaksanakan perintah gurunya dengan jalan membuka
madrasah atau pondok pesantren di daerah tersebut. Rupanya tugas yang diberikan
kepada Raden Fatah dijalankan dengan sebaik-baiknya. Lama kelamaan Desa
Glagahwangi ramai dikunjungi orang-orang. Tidak
hanya menjadi pusat ilmu pengetahuan dan agama, tetapi kemudian menjadi
pusat peradagangan bahkan akhirnya menjadi pusat kerajaan Islam pertama di
Jawa. Letak
kerjaan Demak berada di tepi pantai utara Pulau Jawa. Kerajaan ini sering
dikunjungi pedagang-pedagang Islam dan pedagang asing untuk membeli
beras, madu,lilin dan lain-lain. Sampai abad ke 15, Demak di bawah kekuasaan
Majapahit. Akan tetapi setelah Majapahit mundur, Demak berkembang pesat sebagai
tempat penyebaran agama Islam dan tempat perdagangan yang ramai. Sebagai
penguasa pertama adalah Raden Fatah.
Selain menjadi penguasa (bupati), Raden Fatah
juga sebagai penyiar agama Islam. Raden Fatah memisahkan diri dari Majapahit
sekitar tahun 1500. Dengan bantuan para wali, Raden Fatah mendirikan kerajaan
Islam yang pertama di Pulau Jawa yaitu kerajaan Demak. Kerajaan Islam Demak
merupakan lanjutan kerajaan Majapahit. Sebelum raja Demak merasa sebagai raja
Islam merdeka dan memberontak pada kekafiran (Majapahit). Tidak diragukan lagi
bahwa sudah sejak abad 14
orang Islam tidak asing lagi di kota kerajaan Majapahit dan di bandar bubat.
Cerita-cerita jawa yang memberitakan adanya “kunjungan menghadap raja” ke
Keraton Majapahit sebagai kewajiban tiap tahun, juga bagi para vasal yang
beragama Islam, mengandung kebenaran juga. Dengan melakukan “kunjungan
menghadap raja” secara teratur itulah asal pernyataan kesetiaannya sekaligus
dengan jalan demikian ia tetap menjalin hubungan dengan para pejabat keraton
Majapahit, terutama dengan patih. Waktu raja Demak menjadi raja Islam merdeka
dan menjadi sultan,
tidak ada jalan lain baginya.
Bahwa banyak bagian dari peradaban lama, sebelum zaman Islam telah diambil alih oleh Keraton-keraton Jawa Islam di Jawa Tengah, terbukti jelas sekali dari kesusastraan Jawa pada zaman itu. Bertambahnya bangunan militer di Demak dan Ibukota lainnya di Jawa pada abad 16, selain karena keperluan yang sangat mendesak, disebabkan juga oleh pengaruh tradisi kepahlawanan Islam dan contoh yang dilihat di kota-kota Islam di luar negeri. Pada awal abad ke-16, Kerajaan Demak telah menjadi kerajaan yang kuat di Pulau Jawa, tidak satu pun kerajaan lain di Jawa yang mampu menandingi usaha kerajaan ini dalam memperluas kekuasaannya dengan menundukan beberapa kawasan pelabuhan dan pedalaman di nusantara. Peranan penting masjid Demak sebagai pusat peribadatan kerajaan Islam pertama di Jawa dan kedudukannya di hati orang beriman pada abad 16 dan sesudahnya. Terdapatnya jemaah yang sangat berpengaruh dan dapat berhubungan dengan pusat Islam Internasional di luar negeri. Bagian-bagian penting peradaban jawa Islam yang sekarang, seperti wayang orang, wayang topeng, gamelan, tembang macapat dan pembuatan keris, kelihatannya sejak abad 17 oleh hikayat Jawa dipandang sebagai hasil penemuan para wali yang hidup sezaman dengan kesultanan Demak dan merupakan andil dari kesultanan juga. Kesenian tersebut telah mendapat kedudukan penting dalam peradaban Jawa sebelum Islam, kemungkinan berhubungan dengan ibadat. Pada waktu abad 15 dan 16 di kebanyakan daerah jawa tata cara kafir harus diganti dengan upacara keagamaan Islam, seni seperti wayang dan gamelan itu telah kehilangan sifat sakralnya. Sifatnya lalu menjadi “sekuler”. Perkembangan sastra Jawa yang pada waktu itu dikatakan “modern” juga mendapat pengaruh dari proses sekularisasi karya-karya sastra yang dahulu keramat dan sejarah suci dari zaman kuno. Peradaban “pesisir” yang berpusat di bandar-bandar pantai utara dan pantai timur Jawa, mungkin pada mulanya pada abad 15 tidak semata-mata bersifat Islam. Tetapi kejayaannya pada abad 16 dan 17 dengan jelas menunjukkan hubungan dengan meluasnya agama Islam.
Bahwa banyak bagian dari peradaban lama, sebelum zaman Islam telah diambil alih oleh Keraton-keraton Jawa Islam di Jawa Tengah, terbukti jelas sekali dari kesusastraan Jawa pada zaman itu. Bertambahnya bangunan militer di Demak dan Ibukota lainnya di Jawa pada abad 16, selain karena keperluan yang sangat mendesak, disebabkan juga oleh pengaruh tradisi kepahlawanan Islam dan contoh yang dilihat di kota-kota Islam di luar negeri. Pada awal abad ke-16, Kerajaan Demak telah menjadi kerajaan yang kuat di Pulau Jawa, tidak satu pun kerajaan lain di Jawa yang mampu menandingi usaha kerajaan ini dalam memperluas kekuasaannya dengan menundukan beberapa kawasan pelabuhan dan pedalaman di nusantara. Peranan penting masjid Demak sebagai pusat peribadatan kerajaan Islam pertama di Jawa dan kedudukannya di hati orang beriman pada abad 16 dan sesudahnya. Terdapatnya jemaah yang sangat berpengaruh dan dapat berhubungan dengan pusat Islam Internasional di luar negeri. Bagian-bagian penting peradaban jawa Islam yang sekarang, seperti wayang orang, wayang topeng, gamelan, tembang macapat dan pembuatan keris, kelihatannya sejak abad 17 oleh hikayat Jawa dipandang sebagai hasil penemuan para wali yang hidup sezaman dengan kesultanan Demak dan merupakan andil dari kesultanan juga. Kesenian tersebut telah mendapat kedudukan penting dalam peradaban Jawa sebelum Islam, kemungkinan berhubungan dengan ibadat. Pada waktu abad 15 dan 16 di kebanyakan daerah jawa tata cara kafir harus diganti dengan upacara keagamaan Islam, seni seperti wayang dan gamelan itu telah kehilangan sifat sakralnya. Sifatnya lalu menjadi “sekuler”. Perkembangan sastra Jawa yang pada waktu itu dikatakan “modern” juga mendapat pengaruh dari proses sekularisasi karya-karya sastra yang dahulu keramat dan sejarah suci dari zaman kuno. Peradaban “pesisir” yang berpusat di bandar-bandar pantai utara dan pantai timur Jawa, mungkin pada mulanya pada abad 15 tidak semata-mata bersifat Islam. Tetapi kejayaannya pada abad 16 dan 17 dengan jelas menunjukkan hubungan dengan meluasnya agama Islam.
5. Kerajaan Mataram
Sutawijaya
yang mendapat limpahan Kerajaan Pajang dari Sutan Benowo kemudian memindahkan
pusat pemerintahan ke daerah kekuasaan ayahnya, Ki Ageng Pemanahan, di Mataram.
Sutawijaya kemudian menjadi raja Kerajaan Mataram dengan gelar Panembahan
Senopati Ing Alaga Sayidin Panatagama. Pemerintahan Panembahan Senopati
(1586-1601) tidak berjalan dengan mulus karena diwarnai oleh
pemberontakan-pemberontakan. Kerajaan yang berpusat di Kotagede (sebelah
tenggara kota Yogyakarta sekarang) ini selalu terjadi perang untuk menundukkan
para bupati yang ingin melepaskan diri dari kekuasaan Mataram, seperti Bupati
Ponorogo, Madiun, Kediri, Pasuruan bahkan Demak. Namun, semua daerah itu dapat
ditundukkan. Daerah yang terakhir dikuasainya ialah Surabaya dengan bantuan
Sunan Giri. Setelah
Senopati wafat, putranya Mas Jolang (1601-1613) naik tahta dan bergelar Sultan
Anyakrawati. Dia berhasil menguasai Kertosono, Kediri, dan Mojoagung. Ia wafat
dalam pertempuran di daerah Krapyak sehingga kemudian dikenal dengan Pangeran
Sedo Krapyak.
Mas Jolang
kemudian digantikan oleh Mas Rangsang (1613-1645). Raja Mataram yang bergelar
Sultan Agung Senopati ing Alogo Ngabdurracham ini kemudian lebih dikenal dengan
nama Sultan Agung. Pada masa pemerintahannya, Mataram mencapai masa keemasan.
Pusat pemerintahan dipindahkan ke Plered. Wilayah kekuasaannya meliputi Jawa
Tengah, Jawa Timur, dan sebagian Jawa Barat. Sultan Agung bercita-cita
mempersatukan Jawa. Karena merasa sebagai penerus Kerajaan Demak, Sultan Agung
menganggap Banten adalah bagian dari Kerajaan Mataram. Namun, Banten tidak mau
tunduk kepada Mataram. Sultan Agung kemudian berniat untuk merebut Banten. Namun, niatnya itu
terhambat karena ada VOC yang menguasai Sunda Kelapa. VOC juga tidak menyukai
Mataram. Akibatnya, Sultan Agung harus berhadapan dulu dengan VOC. Sultan Agung
dua kali berusaha menyerang VOC: tahun 1628 dan 1629. Penyerangan tersebut
tidak berhasil, tetapi dapat membendung pengaruh VOC di Jawa.
Sultan Agung
membagi sistem pemerintahan Kerajaan Mataram seperti berikut:
-Kutanegara, daerah
pusat keraton. Pelaksanaan pemerintahan dipegang oleh Patih Lebet (Patih Dalam)
yang dibantu Wedana Lebet (Wedana Dalam).
-Negara Agung, daerah
sekitar Kutanegara. Pelaksanaan pemerintahan dipegang Patih Jawi (Patih Luar)
yang dibantu Wedana Jawi (Wedana Luar).
-Mancanegara, daerah di
luar Negara Agung. Pelaksanaan pemerintahan dipegang oleh para Bupati.
-Pesisir, daerah
pesisir. Pelaksanaan pemerintahan dipegang oleh para Bupati atau syahbandar.
Sultan Agung wafat pada
tahun 1645 dan digantikan oleh Amangkurat I (1645-1677). Amangkurat I menjalin
hubungan dengan Belanda. Pada masa pemerintahannya. Mataram diserang oleh
Trunojaya dari Madura, tetapi dapat digagalkan karena dibantu Belanda. Amangkurat I kemudian
digantikan oleh Amangkurat II (1677-1703). Pada masa pemerintahannya, wilayah
Kerajaan Mataram makin menyempit karena diambil oleh Belanda.Setelah Amangkurat
II, raja-raja yang memerintah Mataram sudah tidak lagi berkuasa penuh karena
pengaruh Belanda yang sangat kuat. Bahkan pada tahun 1755, Mataram terpecah
menjadi dua akibat Perjanjian Giyanti: Ngayogyakarta Hadiningrat (Kesultanan
Yogyakarta) yang berpusat di Yogyakarta dengan raja Mangkubumi yang bergelar
Hamengku Buwono I dan Kesuhunan Surakarta yang berpusat di Surakarta dengan
raja Susuhunan Pakubuwono III. Dengan demikian, berakhirlah Kerajaan Mataram.
Kehidupan sosial
ekonomi Mataram cukup maju. Sebagai kerajaan besar, Mataram maju hampir dalam
segala bidang, pertanian, agama, budaya. Pada zaman Kerajaan Majapahit, muncul
kebudayaan Kejawen, gabungan antara kebudayaan asli Jawa, Hindu, Buddha, dan
Islam, misalnya upacara Grebeg, Sekaten. Karya kesusastraan yang terkenal
adalah Sastra Gading karya Sultan Agung. Pada tahun 1633, Sultan Agung
mengganti perhitungan tahun Hindu yang berdasarkan perhitungan matahari dengan
tahun Islam yang berdasarkan perhitungan bulan.
6. Kerajaan Banten
Kerajaan
yang terletak di barat Pulau Jawa ini pada awalnya merupakan bagian dari
Kerajaan Demak. Banten direbut oleh pasukan Demak di bawah pimpinan Fatahillah.
Fatahillah adalah menantu dari Syarif Hidayatullah. Syarif Hidayatullah adalah
salah seorang wali yang diberi kekuasaan oleh Kerajaan Demak untuk memerintah
di Cirebon. Syarif Hidayatullah memiliki 2 putra laki-laki, pangeran Pasarean
dan Pangeran Sabakingkin. Pangeran Pasareaan berkuasa di Cirebon. Pada tahun
1522, Pangeran Saba Kingkin yang kemudian lebih dikenal dengan nama Hasanuddin
diangkat menjadi Raja Banten.Setelah Kerajaan Demak mengalami kemunduran, Banten
kemudian melepaskan diri dari Demak. Berdirilah Kerajaan Banten dengan rajanya
Sultan Hasanudin (1522- 1570). Pada masa pemerintahannya, pengaruh Banten
sampai ke Lampung. Artinya, Bantenlah yang menguasai jalur perdagangan di Selat
Sunda. Para pedagang dari Cina, Persia, Gujarat, Turki banyak yang mendatangi
bandar-bandar di Banten. Kerajaan Banten berkembang menjadi pusat perdagangan
selain karena letaknya sangat strategis, Banten juga didukung oleh beberapa
faktor di antaranya jatuhnya Malaka ke tangan Portugis (1511) sehingga para
pedagang muslim berpindah jalur pelayarannya melalui Selat Sunda. Faktor
lainnya, Banten merupakan penghasil lada dan beras, komoditi yang laku di
pasaran dunia. Sultan
Hasanudin kemudian digantikan putranya, Pangeran Yusuf (1570-1580). Pada masa
pemerintahannya, Banten berhasil merebut Pajajaran dan Pakuan. Pangeran Yusuf
kemudian digantikan oleh Maulana Muhammad. Raja yang bergelar Kanjeng Ratu
Banten ini baru berusia sembilan tahun ketika diangkat menjadi raja. Oleh sebab
itu, dalam menjalankan roda pemerintahan, Maulana Muhammad dibantu oleh
Mangkubumi. Dalam tahun 1595, dia memimpin ekspedisi menyerang Palembang. Dalam
pertempuran itu, Maulana Muhammad gugur. Maulana Muhammad kemudian digantikan
oleh putranya Abu’lmufakhir yang baru berusia lima bulan. Dalam menjalankan
roda pemerintahan, Abu’lmufakhir dibantu oleh Jayanegara. Abu’lmufakhir
kemudian digantikan oleh Abu’ma’ali Ahmad Rahmatullah. Abu’ma’ali Ahmad
Rahmatullah kemudian digantikan oleh Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1692).
Sultan
Ageng Tirtayasa menjadikan Banten sebagai sebuah kerajaan yang maju dengan
pesat. Untuk membantunya, Sultan Ageng Tirtayasa pada tahun 1671 mengangkat
purtanya, Sultan Abdulkahar, sebagi raja pembantu. Namun, sultan yang bergelar
Sultan Haji berhubungan dengan Belanda. Sultan Ageng Tirtayasa yang tidak
menyukai hal itu berusaha mengambil alih kontrol pemerintahan, tetapi tidak
berhasil karena Sultan Haji didukung Belanda. Akhirnya, pecahlah perang
saudara. Sultan Ageng Tirtayasa tertangkap dan dipenjarakan. Dengan demikian,
lambat laun Banten mengalami kemunduran karena tersisih oleh Batavia yang
berada di bawah kekuasaan Belanda.
7. Kerajaan Cirebon
Kerajaan
yang terletak di perbatasan antara Jawa Barat dan Jawa Tengah didirikan oleh
salah seorang anggota Walisongo, Sunan Gunung Jati dengan gelar Syarif
Hidayatullah. Syarif
Hidayatullah membawa kemajuan bagi Cirebon. Ketika Demak mengirimkan pasukannya
di bawah Fatahilah (Faletehan) untuk menyerang Portugis di Sunda Kelapa, Syarif
Hidayatullah memberikan bantuan sepenuhnya. Bahkan pada tahun 1524, Fatahillah
diambil menantu oleh Syarif Hidayatullah. Setelah Fatahillah berhasil mengusir
Portugis dari Sunda Kelapa, Syarif Hidayatullah meminta Fatahillah untuk
menjadi Bupati di Jayakarta.
Syarif
Hidayatullah kemudian digantikan oleh putranya yang bernama Pangeran Pasarean.
Inilah raja yang menurunkan raja-raja Cirebon selanjutnya. Pada tahun 1679,
Cirebon terpaksa dibagi dua, yaitu Kasepuhan dan Kanoman. Dengan politik de
vide at impera yang dilancarkan Belanda yang pada saat itu sudah berpengaruh di
Cirebon, kasultanan Kanoman dibagi dua menjadi Kasultanan Kanoman dan
Kacirebonan. Dengan demikian, kekuasaan Cirebon terbagi menjadi 3, yakni
Kasepuhan, Kanoman, dan Kacirebonan. Cirebon berhasil dikuasai VOC pada akhir
abad ke-17.
8. Kerajaan Gowa-Tallo
Kerajaan
yang terletak di Sulawesi Selatan sebenarnya terdiri atas dua kerjaan: Gowa dan
Tallo. Kedua kerajaan ini kemudian bersatu. Raja Gowa, Daeng Manrabia, menjadi
raja bergelar Sultan Alauddin dan Raja Tallo, Karaeng Mantoaya, menjadi perdana
menteri bergelar Sultan Abdullah. Karena pusat pemerintahannya terdapat di
Makassar, Kerajaan Gowa dan Tallo sering disebut sebagai Kerajaan Makassar. Karena posisinya yang
strategis di antara wilayah barat dan timur Nusantara, Kerajaan Gowa dan Tallo
menjadi bandar utama untuk memasuki Indonesia Timur yang kaya rempah-rempah.
Kerajaan Makassar memiliki pelaut-pelaut yang tangguh terutama dari daerah
Bugis. Mereka inilah yang memperkuat barisan pertahanan laut Makassar. Raja yang terkenal dari
kerajaan ini ialah Sultan Hasanuddin (1653-1669). Hasanuddin berhasil
memperluas wilayah kekuasaan Makassar baik ke atas sampai ke Sumbawa dan
sebagian Flores di selatan.
Karena
merupakan bandar utama untuk memasuki Indonesia Timur, Hasanuddin bercita-cita
menjadikan Makassar sebagai pusat kegiatan perdagangan di Indonesia bagian
Timur. Hal ini merupakan ancaman bagi Belanda sehingga sering terjadi
pertempuran dan perampokan terhadap armada Belanda. Belanda kemudian menyerang
Makassar dengan bantuan Aru Palaka, raja Bone. Belanda berhasil memaksa
Hasanuddin, Si Ayam Jantan dari Timur itu menyepakati Perjanjian Bongaya pada
tahun 1667. Isi perjanjian itu ialah: Belanda mendapat monopoli dagang di
Makassar, Belanda boleh mendirikan benteng di Makassar, Makassar harus
melepaskan jajahannya, dan Aru Palaka harus diakui sebagai Raja Bone.
Sultan
Hasanuddin kemudian digantikan oleh Mapasomba. Namun, Mapasomba tidak berkuasa
lama karena Makassar kemudian dikuasai Belanda, bahkan seluruh Sulawesi
Selatan. Tata
kehidupan yang tumbuh di Makassar dipengaruhi oleh hukum Islam. Kehidupan
perekonomiannya berdasarkan pada ekonomi maritim: perdagangan dan pelayaran.
Sulawesi Selatan sendiri merupakan daerah pertanian yang subur. Daerah-daerah taklukkannya
di tenggara seperti Selayar dan Buton serta di selatan seperti Lombok, Sumbawa,
dan Flores juga merupakan daerah yang kaya dengan sumber daya alam. Semua itu
membuat Makassar mampu memenuhi semua kebutuhannya bahkan mampu mengekspor. Karena memiliki
pelaut-pelaut yang tangguh dan terletak di pintu masuk jalur perdagangan
Indonesia Timur, disusunlah Ade’Allapialing Bicarana Pabbalri’e, sebuah tata
hukum niaga dan perniagaan dan sebuah naskah lontar yang ditulis oleh Amanna
Gappa.
9. Kerajaan Ternate dan Tidore
Ternate
merupakan kerajaan Islam di timur yang berdiri pada abad ke-13 dengan raja
Zainal Abidin (1486-1500). Zainal Abidin adalah murid dari Sunan Giri di
Kerajaan Demak. Kerajaan Tidore berdiri di pulau lainnya dengan Sultan Mansur
sebagai raja.[15] Kerajaan yang terletak
di Indonesia Timur menjadi incaran para pedagang karena Maluku kaya akan
rempah-rempah. Kerajaan Ternate cepat berkembang berkat hasil rempah-rempah
terutama cengkih. Ternate
dan Tidore hidup berdampingan secara damai. Namun, kedamaian itu tidak
berlangsung selamanya. Setelah Portugis dan Spanyol datang ke Maluku, kedua
kerajaan berhasil diadu domba. Akibatnya, antara kedua kerajaan tersebut
terjadi persaingan. Portugis yang masuk Maluku pada tahun 1512 menjadikan
Ternate sebagai sekutunya dengan membangun benteng Sao Paulo. Spanyol yang
masuk Maluku pada tahun 1521 menjadikan Tidore sebagai sekutunya. Dengan berkuasanya
kedua bangsa Eropa itu di Tidore dan Ternate, terjadi pertikaian terus-menerus.
Hal itu terjadi karena kedua bangsa itu sama-sama ingin memonopoli hasil bumi
dari kedua kerajaan tersebut. Di lain pihak, ternyata bangsa Eropa itu bukan
hanya berdagang tetapi juga berusaha menyebarkan ajaran agama mereka.
Penyebaran agama ini mendapat tantangan dari Raja Ternate, Sultan Khairun
(1550-1570). Ketika diajak berunding oleh Belanda di benteng Sao Paulo, Sultan
Khairun dibunuh oleh Portugis.
Setelah
sadar bahwa mereka diadu domba, hubungan kedua kerajaan membaik kembali. Sultan
Khairun kemudian digantikan oleh Sultan Baabullah (1570-1583). Pada masa
pemerintahannya, Portugis berhasil diusir dari Ternate. Keberhasilan itu tidak
terlepas dari bantuan Sultan Tidore. Sultan Khairun juga berhasil memperluas
daerah kekuasaan Ternate sampai ke Filipina. Sementara itu, Kerajaan
Tidore mengalami kemajuan pada masa pemerintahan Sultan Nuku. Sultan Nuku
berhasil memperluas pengaruh Tidore sampai ke Halmahera, Seram, bahkan Kai di
selatan dan Misol di Irian.
Dengan
masuknya Spanyol dan Portugis ke Maluku, kehidupan beragama dan bermasyarakat
di Maluku jadi beragam: ada Katolik, Protestan, dan Islam. Pengaruh Islam
sangat terasa di Ternate dan Tidore. Pengaruh Protestan sangat terasa di Maluku
bagian tengah dan pengaruh Katolik sangat terasa di sekitar Maluku bagian
selatan. Maluku
adalah daerah penghasil rempah-rempah yang sangat terkenal bahkan sampai ke
Eropa. Itulah komoditi yang menarik orang-orang Eropa dan Asia datang ke
Nusantara. Para pedagang itu membawa barang-barangnya dan menukarkannya dengan
rempah-rempah. Proses perdagangan ini pada awalnya menguntungkan masyarakat
setempat. Namun, dengan berlakunya politik monopoli perdagangan, terjadi
kemunduran di berbagai bidang, termasuk kesejahteraan masyarakat.
C. Jejak-jejak Peradaban Islam Nusantara
Agama Islam berkembang dengan pesat di tanah air. Hal ini dapat dilihat
dengan berdirinya kerajaan-kerajaan Islam dan peninggalan-peninggalan sejarah
Islam di Indonesia. Agama dan kebudayaan Islam mewariskan banyak sekali
peninggalan sejarah. Peninggalan-peninggalan sejarah bercorak Islam antara lain
masjid, kaligrafi, karya sastra, dan tradisi keagamaan. Berikut ini akan disebutkan beberapa jejak
peninggalan kerajaan Islam di Indonesia yang masih bisa kita dapatkan dan
rasakan hingga masa kini:
·
Masjid-masjid
peninggalan sejarah kerajaan Islam di Indonesia
|
No.
|
Nama
Masjid
|
Lokasi
Penemuan
|
Pembuatan
|
|
1
|
Masjid
Agung Demak
|
Demak,
Jateng
|
Abad 14 M
|
|
2
|
Masjid
Ternate
|
Ternate,
Ambon
|
Abad 14 M
|
|
3
|
Masjid
Sunan Ampel
|
Surabaya,
Jatim
|
Abad 15 M
|
|
4
|
Masjid
Kudus
|
Kudus,
Jateng
|
Abad 15 M
|
|
5
|
Masjid
Banten
|
Banten
|
Abad 15 M
|
|
6
|
Masjid
Cirebon
|
Cirebon,
Jabar
|
Abad 15 M
|
|
7
|
Masjid
Raya Baiturrahman
|
Banda Aceh
|
Abad 15 M
|
|
8
|
Masjid
Katangga
|
Katangga,
Sulsel
|
Abad 16 M
|
|
|
|
|
|
·
Kaligrafi
Kaligrafi
adalah tulisan indah dalam huruf Arab. Tulisan tersebut biasanya diambil dari
ayat-ayat suci Al Quran. Kaligrafi digunakan sebagai hiasan dinding masjid,
batu nisan, gapura masjid dan gapura pemakaman. Batu nisan pertama yang
ditemukan di Indonesia adalah batu nisan pada makam Fatimah binti Maimun di
Leran, Surabaya. Sedangkan kaligrafi pada gapura terdapat di gapura makam Sunan
Bonang di Tuban, gapura makam raja-raja Mataram, Demak, dan Gowa.
Tulisan-tulisan
kaligrafi peninggalan sejarah Islam di Indonesia
|
No.
|
Kaligrafi
|
Lokasi
Penemuan
|
Pembuatan
|
|
1
|
Makam
Fatima binti Maimun
|
Gresik,
Jatim
|
Abad 13 M
|
|
2
|
Makam Ratu
Nahrasiyah
|
Samudra
Pasai
|
Abad 14 M
|
|
3
|
Makam
Maulana Malik Ibrahim
|
Gresik,
Jatim
|
Abad 15 M
|
|
4
|
Makam S.
Giri
|
Gresik,
Jatim
|
Abad 15 M
|
|
5
|
Makam S.
Gunung Jati
|
Cirebon,
Jabar
|
Abad 15 M
|
|
6
|
Makam S.
Kudus dan S. Muria
|
Kudus, Jateng
|
Abad 15 M
|
|
7
|
Makan
Sunan Kalijaga
|
Demak,
Jateng
|
Abad 15 M
|
|
8
|
Makan
raja-raja Banten
|
Banten
|
Abad 15 M
|
|
9
|
Makam
raja-raja Mataram
|
Imogiri
|
Abad 16 M
|
|
10
|
Makam
raja-raja Mangkunegaran
|
Astana
Giri
|
Abad 16 M
|
|
11
|
Makam
raja-raja Gowa
|
Katangga
|
Abad 16 M
|
·
Istana
Istana
adalah tempat tinggal raja atau sultan beserta keluarganya. Istana berfungsi
sebagai pusat pemerintahan. Adanya istana sebenarnya karena pengaruh Hindu dan
Buddha. Setelah Islam masuk, tradisi pembangunan istana masih berlangsung.
Akibatnya, pada bangunan istana yang bercorak Islam, pengaruh Hindu dan Buddha
masih tampak. Saat ini peninggalan Islam yang berupa Istana tinggal beberapa
saja.
Istana-istana
peninggalan sejarah kerajaan Islam di Indonesia
|
No.
|
Nama
Istana
|
Lokasi
Penemuan
|
Pembuatan
|
|
1
|
Istana
Kesultanan Ternate
|
Ternate,
Ambon
|
Abad 14 M
|
|
2
|
Istana
Kesultanan Tidore
|
Tidore,
Ambon
|
Abad 14 M
|
|
3
|
Keraton
Kasepuhan
|
Cirebon,
Jabar
|
Abad 15 M
|
|
4
|
Keraton
Kanoman
|
Cirebon,
Jabar
|
Abad 15 M
|
|
5
|
Keraton
Kesultanan Aceh
|
NAD
|
Abad 15 M
|
|
6
|
Istana
Sorusuan
|
Banten
|
Abad 15 M
|
|
7
|
Istana
Raja Gowa
|
Gowa,
Sulsel
|
Abad 16 M
|
|
8
|
Keraton
Kasultanan
|
Yogyakarta
|
Abad 17 M
|
|
9
|
Keraton
Pakualaman
|
Yogyakarta
|
Abad 17 M
|
·
Kitab-kitab
Kesusastraan
Islam berkembang di Jawa dan Sumatra. Peninggalan karya sastra yang bercorak
Islam adalah suluk dan hikayat. Suluk dan hikayat ada yang ditulis dalam bahasa
daerah ada juga yang ditulis dalam bahasa Arab. Ada juga suluk yang
diterjemahkan dalam bahasa Melayu. Suluk dan hikayat dibuat untuk mempermudah
masyarakat Indonesia menangkap ajaran Islam. Beberapa suluk terkenal adalah
syair Si Burung Pingai dan syair Perahu karya Hamzah Fansuri serta syair Abdul
Muluk dan syair gurindam dua belas karya Ali Haji. Syair gurindam dua belas
berisi nasihat kepada para pemimpin agar mereka memimpin dengan bijaksana. Ada
juga nasihat untuk rakyat biasa agar mereka menjadi terhormat dan disegani oleh
sesama manusia. Syair Abdul Muluk menceritakan Raja Abdul Muluk. Hikayat adalah
cerita atau dongeng yang isinya diambil dari kejadian sejarah. Di pulau Jawa,
hikayat dikenal dengan nama babad. Babad tanah Jawa menceritakan
kerajaan-kerajaan yang terdapat di Jawa. Cerita tersebut dimulai dari kerajaan
Hindu-Buddha sampai kerajaan Islam. Di Aceh ada beberapa jilid Bustan
Al-Salatin yang berisi riwayat nabi-nabi, riwayat sultansultan Aceh, dan
penjelasan penciptaan langit dan bumi. Kitab ini ditulis oleh Nuruddi
Ar-Raniri.
·
Pesantren
Sejak
masuknya Islam ke Indonesia, pesantren merupakan lembaga yang mengajarkan
Islam. Pesantren pertama kali didirikan di daerah Jawa dan Madura oleh para
kiai. Pesantren pertama ini dibangun pada masa Sunan Ampel yaitu pada masa
pemerintahan Prabu Kertawijaya dari Majapahit. Pesatren kemudian berkembang
pesat dan melahirkan kelompok-kelompok terpelajar. Para santri belajar bahasa
Arab, kitab Kuning, fiqih, pendalaman Al Quran, tauhid, akhlak, dan tradisi
tasawuf. Beberapa pesantren besar yang ada di Indonesia antara lain Pesantren
Tebuireng di Jombang, Pesantren Lasem di Rembang, Pesantren Lirboyo di Kediri,
Pesantren Asembagus di Situbondo, Pesantren As-Shiddiqiyyah di Jakarta,
Al-Kautsar Medan dan peninggalan Kerajaan Islam yang merupakan sarana
pendidikan Keislaman ini dapat kita rasakan hingga sekarang
·
Tradisi/Kebudayaan
Tradisi/budaya warisan dari
kerajaan Islam Indonesia dimasa lampau terdapat banyak tradisi yang umumnya
merupakan peninggalan wali songo yang sebelumnya adalah tradisi hindu budha
yang diIslamisasikan yang sampai saat ini masih dipertahankan oleh masyarakat.
-Salah satunya adalah budaya
tahlilan dan yasinan yang ditujukan untuk mendoakan orang yang meninggal , yang
mana selain tujuan ini juga tersimpan tujuan lain seperti mempererat tali
silaturahim , bentuk kepedulian dan penghormatan terhadap orang yang telah
meninggal, berzikir bersama dan saling melakukan jamuan makanan.
-Ziarah, yaitu kegiatan mengunjungi makam. Ziarah berkembang
bersama dengan tradisi lain. Di Jawa, misalnya pengunjung di sebuah makam
melaksankan ziarah dengan cara melakukan berbagai kegiatan. Kegiatan tersebut
adalah membaca Al Quran atau kalimat syahadat, berdoa, begadang untuk semadi,
atau tidur dengan harapan memperoleh firasat dalam mimpi.
-Sedekah, acara keluarga dengan mengundang tetangga sekitar.
Sedekah untuk peristiwa gembira disebut syukuran. Sedekah untuk peristiwa sedih
atau meminta perlindungan, disebut selamatan. Sedekah meminta sesuatu disebut
hajatan.
-Sekaten, yaitu perayaan Maulid Nabi Muhammad dalam budaya
Jawa. Perayaan Sekaten dikenal di Yogyakarta, Surakarta, Jawa Timur, dan
Cirebon.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Agama
Islam masuk ke Asia Tenggara kira-kira sejak abad ke-7. Melalui beberapa saluran, yaitu: Saluran Perdagangan,
Saluran Perkawinan, Saluran Tasawuf, Saluran Pendidikan, Saluran Kesenian dan
Saluran Politik.
Kerajaan-Kerajaan
Islam yang berkembang di Indonesia antara lain: Kerajaan Perlak, Kerajaan
Samudra Pasai, Kerajaan Aceh, Kerajaan Demak, Kerajaan Pajang, Kerajaan
Mataram, Kerajaan Banten, Kerajaan Cirebon, Kerajaan Goa-Tallo, Kerajaan
Ternate dan Tidore.
Islam
berkembang pesat di Indonesia dibuktikan dengan Agama Islam merupakan agama
yang mendominasi wilayah Indonesia. Selain itu sistem pemerintahan
kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia termasuk dalam sistem pemerintahan
monarki, karena para penguasa masih ada ikatan keturunan
DAFTAR PUSTAKA
Azra, Azyumardi.2004. Jaringan
Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII. Bandung:
Mizan
Endar Wismulyani. 2009.
Jejak Islam di Nusantara. Klaten: Cempaka Putih
Hamka. 2005. Sejarah
Umat Islam. Singapura: Pustaka Nasional Pte Ltd
Hasymy, A. 1989. Sejarah
Masukdan Berkembangnya Islam di Indonesia. Jakarta: PT Al Ma’arif
Supriyadi, Dedi.2008.Sejarah
Peradaban Islam. Bandung: Pustaka Setia
Yatim, Badri. 2010.Sejarah
Peradaban Islam.Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
http://www.voa-islam.com/news/se-asia/2009/07/09/175/sejarah-asia-tenggara
(3awal-mula-masuknya-peradaban-islam/
[4] Hasymy,Sejarah
Masukdan Berkembangnya Islam di Indonesia, (Jakarta: PT Al Ma’arif, 1989),
h. 195-201
[10] Hamka, Sejarah Umat Islam,.....h. 709
[12] Hasymy,Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia
......h.240
[13] Hasymy, Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia......h.244-246
[15] Hamka, Sajarah Umat Islam,,,, h. 808asuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia,.....h. 205
[10] Hamka, Sejarah Umat Islam,.....h. 709
[12] Hasymy,Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia
......h.240
[13] Hasymy, Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia......h.244-246
[15] Hamka, Sajarah Umat Islam,,,, h. 808